Heronesia.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan berat hati jika
bersaing dengan Presiden Joko Widodo di pemilihan presiden 2019. Alasannya,
Jokowi adalah pasangan dia dalam memimpin Indonesia sejak 2014.
Kalla mengatakan andai ia maju sebagai calon presiden 2019
maka bakal kesulitan untuk melawan Jokowi. "Bagaimana kami mengatakan
bahwa saya lebih baik daripada Pak Jokowi padahal kami sama-sama?,"
katanya saat wawancara seperti dilansir Tempo di Kantor Wakil Presiden,
Jakarta, Selasa, 2 Juli 2018.
Mantan ketua umum Partai Golkar ini menjelaskan, akan sulit
berkampanye tanpa mengkritik lawan. Jika ia mengkritik Jokowi, itu sama dengan
mengkritik diri sendiri.
Perasaan itu, kata Kalla, pernah muncul saat ia melawan
Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY di pilpres 2009. Sebelumnya SBY dan Kalla
adalah presiden dan wakil presiden Indonesia periode 2004-2009.
Saat itu, Kalla mengaku kesulitan bagaimana cara menyampaikan
ke publik bahwa programnya lebih baik ketimbang SBY padahal selama lima tahun
sebelumnya mereka bekerja sama. Akhirnya ia memilih menggunakan tagline 'Lebih
Cepat Lebih Baik'.
"Rumit. Zaman dulu saya cuma bilang lebih cepat lebih
baik. Bingung juga kan Pak SBY. Saya merasa tidak pernah mengkritik SBY di
dalam kampanye," tuturnya.
Dalam pilpres 2004 pasangan SBY - Kalla menjadi pemenang
setelah mengalahkan duet Megawati Soekarnoputri - Hasyim Muzadi di putaran
kedua. Pada pilpres berikutnya, SBY yang berpasangan dengan Boediono unggul
dari saingannya, yaitu duet Megawati Soekarnoputri - Prabowo Subianto dan Jusuf
Kalla - Wiranto.
Adapun di pilpres 2019, nama Kalla disebut-sebut bakal
diusung sebagai calon presiden dan dipasangkan dengan Agus Harimurti Yudhoyono
atau AHY oleh Partai Demokrat. Namun Kalla menyatakan belum pernah ada pembicaraan
antara ia dan Demokrat.
Selain belum ada pembicaraan, kata Kalla, Partai Demokrat
tidak bisa sendirian mencalonkan pasangan calon presiden. Demokrat hanya
memiliki 10 persen kursi Dewan Perwakilan Rakyat, sedangkan undang-undang
mensyaratkan partai yang mau mengusung pasangan calon presiden harus memiliki
20 persen kursi di DPR.
"Kami belum bicarakan. Apalagi juga mendapatkan 20
persen itu butuh tiga partai lagi," tuturnya. Ia menyatakan sejatinya
ingin istirahat dari dunia politik. Namun hal itu bisa saja berubah.
"Istirahat itu masih ada yang di atasnya, yaitu kepentingan bangsa dan
negara," ucap JK .
source: Tempo
Loading...

